Rabu, 22 Juni 2011

Study Hadits


1.      Bagaimana pertumbuhan hadits pada zaman rosulullah dan pada masa sahabat?
Jawaban :
·         Pertumbuhan hadits pada zaman Rosulullah:
Hadits Nabi telah ada sejak awal perkembangan Islam adalah sebuah kenyataan yang tak dapat diragukan lagi. Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam, di samping al-Qur’an. “Hadits atau disebut juga dengan Sunnah, adalah segala sesuatu yang bersumber atau didasarkan kepada Nabi SAW., baik berupa perketaan, perbuatan, atau taqrir-nya. Hadits, sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an, sejarah perjalanan hadits tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri. Akan tetepi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri tertentu yang spesipik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan khusus”.

Pada zaman Nabi, hadits diterima dengan mengandalkan hafalan para sahabat Nabi, dan hanya sebagian hadits yang ditulis oleh para sahabat Nabi. Hal ini disebabkan, “Nabi pernah melarang para sahabat untuk menulis hadits beliau. Dalam pada itu, Nabi juga pernah menyuruh para sahabat untuk menulis hadits beliau. ….. Dalam sejarah, pada zaman Nabi telah terjadi penulisan hadits. misalnya berupa surat-surat Nabi tentang ajakan memeluk Islam kepada sejumlah pejabat dan kepala negara yang belum memeluk Islam. Sejumlah sahabat Nabi telah menulis hadits Nabi, misalnya Abdullah bin ‘Amr bin al-’As (w.65 H/685 M), Abdullah bin ‘Abbas (w.68 H/687 M), ‘Ali bin Abi Thalib (w. 40 H/661 M), Sumrah (Samurah) bin Jundab (w. 60 H), Jabir bin Abdullah (w. 78 H/697 M), dan Abdullah bin Abi Aufa’ (w.86 H). Walaupun demikian tidaklah berarti bahwa seluruh hadits telah terhimpun dalam catatan para sahabat tersebut. penulisan hadits bersifat dan untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, hadits-hadits yang ada pada para sahabat, yang kemudian diterima oleh para tabi’in memungkinkan ditemukan adanya redaksi yang berbada-beda. Sebab, ada yang meriwayatkannya sesuai atau sama benar dengan lafazh yang diterima dari Nabi (yang disebut dengan periwayatan bi al-lafzhi), dan ada yang hanya sesuai makna atau maksudnya saja (yang disebut dengan periwayatan bi al-ma’na), sedang redaksinya tidak sama. Lebih lanjut H.Said Agil Husain al-Munawar, mengatakan bahwa di antara para sahabat yang sangat ketat berpegang kepada periwayatan bi al-lafzhi, ialah Abdullah bin Umar. Menurutnya, tidak boleh ada satu kata atau huruf yang dikurangi atau ditambah dari yang disabdakan Rasul SAW.Dengan demikian, hadits Nabi yang berkembang pada zaman Nabi (sumber aslinya), lebih banyak berlangsung secara hafalan dari pada secara tulisan. Penyebabnya adalah Nabi sendiri melarang para sahabat untuk menulis hadits-nya, dan menurut penulis karakter orang-orang Arab sangat kuat hafalannya dan suka menghafal, dan ada kehawatiran bercampur dengan al-Qur’an. Dengan kenyataan ini, sangat logis sekali bahwa tidak seluruh hadits Nabi terdokumentasi pada zaman Nabi secara keseluruhan.
·         Pertumbuhan Hadits pada zaman para sahabat

1. Para Sahabat yang banyak meriwayatkan Hadist
Namun ada beberapa sahabat yang banyak pula meriwayatkan hadist diantaranya Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Siti A’isyah, Abu Darda, Abu Dzar Al-Ghifari. Namun para sahabat ini tidak sembarangan menriwayatkan tanpa ketelitian.
Abu Hurairah misalnya pernah ditanya ketika diketahui ia banyak meriwayatkan hadist:” Apakah kamu bersama kami ketika Nabi Saw berada di tempat ini? (Maksudnya: Abu Hurairah adalah sahabat yang hanya 2 tahun saja bersama Nabi sebelum beliau wafat. Dan ia ditanya agar memastikan bahwa hadist yang diriwayatkan benar-benar dari Nabi atau bukan hadist palsu. Pen) Abu Hurairah,” Benar! Aku mendengar Nabi Sae bersabda: Barang siapa berbohong atas namaku, maka bersiaplah bahwa tempat duduknya kelak dari apai neraka.”
Begitu pula dengan siti A’isyah meskipun dikenal banyak meriwayatkan hadist, namun ia menolak jika hadist itu bertentangan dengan Qur’an.
Ketika ia mendengar hadist yang menyatakan bahwa orang mati itu diadzab Tuhan karena ditangisi keluarganya. Bunyi hadis itu. ‘:”… sesungguhnya orang mati itu diadzab karena tangis keluarganya …”
Aisyah menolak hadis itu dengan nada tanya :”Apakah kalian lupa firman Allah : … seseorang tidak akan menanggung/memikul dosa orang lain

2. Sahabat Yang Sedikit Meriwayatkan Hadist
Beberapa sahabat yang termasuk sedikit dalam meriwayatkan hadist ketika itu Zaid Ibn Arqam, Zubair ibn ‘Awam, ‘Imran ibn Hashin, Anas Bin Malik, Saad bin Abi Waqqas dan lainnya.
Anas bin Malik pernah berkata, sekiranya dia tidak takut keliru niscaya semua apa yang telah didengarnya dari Nabi dikemukakan pula kepada orang lain. Pernyataan Anas ini memberi petunjuk bahwa tidak seluruh hadis yang pernah didengarnya dari Nabi disampaikannya kepada sahabat lain atau kepada tabi’in, dia berlaku hati-hati dalam meriwayatkan hadist.
Saad bin Abi Waqqash (w. 55 H/675 M), pernah ditemani oleh al-Sa’ib bin Yazid italics dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah pergi-pulang. Selama dalam perjalanan, Sa’ad tidak menyampaikan sebuah hadis pun kepada al-Sa’ib. Apa yang dilakukan Sa’ad itu tidak lepas dari sikap hati-hatinya dalam periwayatan hadist
Sikap hati-hati para sahabat Nabi tersebut bukan hanya ketika menyampaikan hadis saja, melainkan juga ketika menerimanya. Tidak jarang seorang sahabat terpaksa menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk mendapatkan atau mencocokkan sebuah hadis saja.

Rihlah Ilmiah Para Sahabat Dalam Mencari Ilmu (Mencari Hadist)
Para sahabat, yang pernah bersama Nabi Saw baik dalam keadaan suka dan duka, yang tahu turunya wahyu, mereka pula murid-murid langsung dari Rasulullah Saw, tidak pernah lelah dalam mencari ilmu. Mencari ilmu ketika itu adalah dengan mendengar atau mencari hadist, karena hadist adalah sumber ilmu, selain sebagai penafsir Qur’an.
Abu Ayyub Anshari misalnya yang bertempat di MaAdinah pernah mendatangi Uqbah bin ‘Amir di Mesir hanya untuk menanyakan satu hadist saja.
Begitu pula dengan Jabir bin Abdullah seperti yang tercantum dalam riwayat Bukhari, bahwa ia pernah berjalan sebulan penuh dari Madinah ke Syam (Jordan, Syria sekarang) hanya untuk mencari satu hadist saja yang belum ia dengar sebelumnya.



2.      Bagaimana hadits pada zaman Tabi’in( umayyah, abbasiyah , sistem pembukuan dan penulisa n) ?
Jawaban :
  Sebagaimana para sahabat, para tabi’in juga cukup berhati-hati dalam periwayatan hadis.  Hanya saja mereka tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan yang dihadapi oleh para sahabat.  Pada masa ini al-Qur’an sudah dikumpulkan dalam satu mushaf, sehingga tidak lagi mengkhawatirkan mereka.  Selain itu, pada masa akhir periode khulafa’ ar-rasyidin, para sahabat ahli hadis telah menyebar ke beberapa wilayah kekuasaan islam.  Ini merupakan kemudahan bagi para tabi;in untuk mempelajari hadis-hadis dari mereka.
       Ketika pemerintahan dipegang oleh bani umayah, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi Makkah, Madinah, Bashrah, Syam, Khurasan, Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan, Samarkand dan Spanyol.  Sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah kekuasaan islam itu, penyebaran para sahabat ke daerah-daerah tersebut terus meningkat, yang berarti juga meningkatnya penyebaran hadis.  Oleh karena itu masa ini dikenal dengan masa




Tidak ada komentar:

Posting Komentar